Tupat, Lontong dan Kue Bantal yang Tak Tergantikan

By

Developer

Developer at 10/05/2025

Janur yang dianyam tangan dan daun pisang yang dibentuk kerucut, lalu diisi beras dan direbus hingga matang, bukan sekadar simbol makanan, melainkan mencerminkan proses kehidupan dan harmoni manusia dengan alam. Di Pulau Lombok, pisang dan kelapa bukan hanya tanaman biasa—keduanya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat secara turun-temurun. Hampir setiap lahan pertanian di sana ditumbuhi kedua jenis tanaman ini, yang tak hanya menopang ekonomi warga, tetapi juga menyumbang nilai estetika dalam keseharian.

Bagi sebagian warga, janur dan daun pisang adalah berkah dalam hidup. Bahan-bahan alami ini menjadi bagian dari rutinitas harian, khususnya bagi para perajin dan pedagang tupat serta lontong. Aktivitas mereka dimulai dari membersihkan bahan, merangkai, mengisi beras, hingga merebusnya selama berjam-jam. Proses yang berlangsung semalaman itu kemudian berbuah hasil yang dijual ke pasar sejak dini hari.

Pemandangan matahari terbit di balik pohon kelapa menjadi gambaran keseharian yang penuh makna. Tidak heran jika tanaman pisang dan kelapa menginspirasi masyarakat Lombok selama berabad-abad. Di Kelurahan Punia, yang meliputi wilayah seperti Punia Saba, Karang Keteng, dan Karang Kelayu, janur dan daun pisang telah menjadi bagian dari identitas budaya lokal dalam pembuatan makanan tradisional.

Setiap hari, warga Punia memproduksi ribuan lontong dan ketupat yang dikirim ke berbagai penjuru Kota Mataram. Permintaan akan produk ini meningkat drastis saat hari raya, terutama untuk sajian seperti opor ayam yang selalu ditemani lontong atau ketupat. Di momen-momen tersebut, jalanan di kawasan seperti Airlangga dan Abdul Kadir Munsyi dipenuhi pedagang dadakan yang biasanya bekerja di balik layar, kini turun langsung berjualan.

Kelurahan Punia yang padat penduduk pun menjadi kawasan kuliner aktif, terutama saat perayaan besar seperti Idul Fitri, Lebaran Topat, Idul Adha, dan Maulid Nabi. Namun, meski menjadi sentra penghasil lontong dan ketupat, kehidupan para perajin ini belum banyak mengalami peningkatan. Keuntungan dari hasil jualan sehari-hari umumnya hanya cukup untuk kebutuhan pokok, bahkan saat produksi mencapai 15–30 kilogram beras per hari.

Bertahan dalam tekanan biaya hidup yang meningkat, para perajin mencoba berbagai cara untuk menambah penghasilan, termasuk membuka lapak sendiri atau menambah variasi produk seperti kue bantal. Walaupun pasar makanan tradisional ini cukup menjanjikan, terutama dengan banyaknya pedagang bakso yang juga membutuhkan lontong, para perajin tetap membutuhkan dukungan lebih besar.

Dalam sehari, satu keluarga perajin bisa membuat ratusan lontong dengan waktu kerja lebih dari delapan jam. Namun, harga jual yang rendah dan harga bahan baku yang terus naik membuat penghasilan mereka sangat terbatas. Ketekunan dan semangat para perajin ini patut diapresiasi, terlebih karena mereka turut melestarikan tradisi kuliner daerah dengan mewariskan keterampilan ini ke generasi berikutnya.

Kawasan ini menjadi benteng terakhir pelestari kuliner lokal yang khas. Jika tidak dijaga, akan hilang pula identitas rasa dari Kota Mataram. Untuk itu, peran pemerintah sangat penting, bukan hanya memberikan pelatihan dan perhatian terhadap kebersihan produk, tetapi juga membantu memperkaya varian produk, menciptakan sistem pemasaran yang lebih luas, serta menjadikan produk lokal ini bagian dari konsumsi resmi dalam acara-acara pemerintahan.

Kepastian pesanan, misalnya untuk kue bantal dan makanan tradisional lain dalam setiap agenda resmi, bisa menjadi harapan baru bagi para perajin. Sebab, lontong, ketupat, dan kue bantal bukan hanya sekadar makanan—mereka telah menjadi bagian dari sejarah dan budaya Kota Mataram yang selayaknya dilestarikan bersama oleh seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah.