Lebaran Topat Dimanfaatkan Warga Punia Kota Mataram Berjualan Ketupat dan Opor

By

Developer

Developer at 10/05/2025

Lebaran Topat: Tradisi dan Keteguhan Warga Punia di Tengah Hujan dan Keterbatasan

Menjelang Lebaran Topat atau Lebaran Ketupat, suasana di Kelurahan Punia, Kota Mataram, tampak berbeda. Sehari sebelum perayaan yang jatuh pada 29 April 2023, warga beramai-ramai membuka lapak dagangan di sepanjang Jalan Airlangga, khususnya di sekitar Taman Budaya Nusa Tenggara Barat. Lapak-lapak sederhana berjejer di sisi kiri dan kanan jalan, memperlihatkan semangat warga yang tak pernah padam.

Salah satu pedagang, Sriyanah, merupakan sosok yang rutin berjualan setiap tahunnya. Dalam satu hari, ia mampu mengolah 25 hingga 50 kilogram beras menjadi ketupat. "Tergantung banyaknya pembeli, kadang 25 kilogram, kadang lebih," tuturnya.

Lapaknya terdiri dari meja kayu sederhana dan satu payung besar. Di situ, ia menggantung berbagai ukuran ketupat, mulai dari kecil hingga besar. Tak hanya ketupat, ia juga menjajakan aneka jenis lontong—baik lontong panjang maupun lontong kecil. Melengkapi semuanya, tersedia pula lauk pauk khas Lebaran seperti opor ayam, opor telur, dan sayur nangka.

Harga jualnya pun terjangkau. Satu ikat ketupat atau lontong kecil yang berisi lima buah dibanderol Rp 15.000, sedangkan untuk opor dan urap-urap, harganya disesuaikan dengan porsi yang diinginkan pembeli. Bagi mereka yang memilih makan di tempat, seporsi ketupat opor lengkap dengan ayam atau telur dibanderol mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 15.000.

Perayaan ini hanya berlangsung dua hari, yaitu sehari sebelum dan saat Lebaran Topat. Namun meskipun singkat, usaha ini menjadi penting bagi warga seperti Sriyanah. Ia akan menutup lapaknya hanya ketika semua ketupat telah habis terjual.

Menariknya, pada Jumat sore itu, hujan deras mengguyur Kota Mataram sekitar pukul 16.00 WITA. Meski demikian, para pedagang tetap bertahan. Sriyanah, bersama pedagang lainnya, melindungi ketupat dagangannya dengan plastik. Sementara itu, pembeli tetap berdatangan, bahkan dengan memakai mantel mereka rela menerobos hujan demi seporsi ketupat opor hangat.

Beberapa di antaranya memilih menyantap langsung di tempat. Di balik kesederhanaan usaha ini, terdapat perjuangan dan semangat yang luar biasa. Sriyanah mengaku modal usahanya berasal dari pinjaman bank keliling sebesar Rp 1 juta, yang harus ia cicil Rp 20.000 per hari selama dua bulan.

Tradisi Lebaran Topat bukan hanya soal ketupat atau opor, tetapi juga tentang daya juang, solidaritas, dan warisan budaya yang tetap hidup dari generasi ke generasi di Kota Mataram.