By
Developer at 09/05/2025
Salah satu kawasan di Kota Mataram, tepatnya di lingkungan Karang Kateng dan Karang Kelayu, Kelurahan Punia, dikenal luas sebagai kampung lontong. Sebutan ini muncul karena mayoritas warganya memiliki keahlian membuat lontong dan menjadikannya sebagai mata pencaharian utama.
Setiap harinya, warga seperti Nur Istiarah memproduksi puluhan kilogram lontong. Ia mencampur beras kualitas premium dan medium dengan garam agar memiliki rasa, lalu membungkusnya dalam daun pisang yang telah dibersihkan. Lontong khas Lombok ini berbentuk kerucut dengan ujung runcing, berbeda dengan lontong di daerah lain. Setelah dibungkus, lontong direbus selama delapan jam semalam dan dijual ke pasar-pasar tradisional di pagi hari. Harganya bervariasi antara Rp 500 hingga Rp 1.250, tergantung ukuran.
Keahlian membuat lontong diwariskan secara turun-temurun. Istiarah, misalnya, belajar dari ibunya dan kini mengajarkannya kepada anaknya. Tradisi ini juga dilestarikan oleh warga lain seperti Rumini yang telah membuat lontong sejak 1982. Dari sekitar 400 kepala keluarga di Karang Kateng, sekitar 100 di antaranya adalah perajin lontong aktif.
Menjelang bulan Ramadhan dan Lebaran, aktivitas pembuatan lontong semakin meningkat. Banyak warga yang biasanya tidak berjualan ikut memproduksi lontong untuk memenuhi permintaan. Bahkan, proses perebusan sering dilakukan di pinggir jalan utama. Meski hanya berjualan musiman, kebanyakan dari mereka sudah terbiasa dengan proses pembuatan lontong karena lingkungan yang mendukung dan penuh praktik sehari-hari.
Pemerintah kelurahan kini mulai mendata para perajin lontong dan bekerja sama dengan instansi terkait untuk meningkatkan kualitas UMKM ini, terutama dari sisi kemasan, higienitas, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi dan pemasaran.